Selasa, 17 Maret 2020

6 HARI TRAVELING MALAYSIA DAN SINGAPORE - PART 4/6



Berbelanja Oleh-oleh di Bugis, Singapore.




Untuk cerita sebelumnya bisa klik disini.


DAY FOUR – 7 JULI 2019



            Pagi ini kami melakukan check out lebih awal karena jadwal perjalanan kami hari ini tidak akan efektif jika harus mengambil barang-barang lagi ke hostel pada siang harinya. 


Kawasan Kampong Glam atau daerah Haji Lane ini memiliki berbagai spot foto yang menarik, dimulai dari bentuk rumah atau café yang aesthetic dan juga banyak sekali mural yang terlukis di hampir setiap dinding di area ini yang menjadikan tujuan favorit wisatawan untuk berburu foto bagus, yang tentunya juga tak akan kami lewatkan begitu saja. Berbagai sudut gang di kawasan itu pun kami datangi untuk melihat berbagai keindahan yang tersedia.


Karena teringat teman-teman yang berada dikampus, kami berencana membeli key chains di pusat perbelanjaan Bugis. Banyak sekali jenis buah tangan yang bisa dibeli disana, key chains dijual dengan harga SGD 10 mendapatkan 3 pack yang masing-masing berisi 8 buah. Selain itu juga hal yang kami incar sebagai kenang-kenangan adalah kaos. Banyak jenis kaos yang bercirikan Singapore, dari mulai harga sekitar $10 sampai $20, harga tentu membawa kualitas. Jadi gue memilih untuk membeli kaos yang medium yaitu seharga $15 kainnya bagus, lembut dan nggak tipis dan size bajunya juga beda dengan kebanyakan size yang tersedia di Indonesia, biasanya gue memakai ukuran M, tetapi kali ini ukuran S masih terasa cukup besar untuk gue pake. Dan selain itu juga banyak variasi coklat yang dijual disana, akhirnya gue memilih membeli permen coklat seberat 1 kg dengan harga SGD10.


Hari minggu ini kami sudah memiliki janji untuk bertemu seseorang, salah satu saudara yang cukup lama tinggal di Singapore, jadi kami menyempatkan waktu untuk berkunjung saat berada disana, anyway dia juga yang mensponsori perjalanan MRT kami selama 2 hari di Singapore dengan meminjamkan 2 kartu e-money (tentunya ada isinya haha) saat lebaran waktu lalu. Kami sepakat untuk bertemu didalam stasiun MRT Bugis, terlihat dari kejauhan wanita berkerudung dan seorang remaja bertubuh tinggi disampingnya, putra pertamanya yang sudah menginjak bangku kuliah. Kemudian memutuskan untuk pergi mencari makan karena kebetulan semua dari kami belum makan.


Awalnya kami mengusulkan untuk pergi ke chinatown karena hari kemarin belum sempat mengunjungi pusat pecinan Singapore tersebut, tetapi setelah didiskusikan pasti lebih susah untuk mencari makanan halal disana, jadi kami beranjak pergi ke daerah Paya Lebar, berjarak 4 stasiun dari Bugis. 


Hal mencengangkan yang kami lihat disana adalah puluhan bahkan bisa jadi ratusan orang Indonesia, khususnya TKW berkumpul disebuah taman didekat mall yang berada didekat sana, dibawah pohon sambil bercengkerama dengan teman-teman sejawatnya mulai dari yang masih muda hingga paruh baya. Bahkan ada yang membawa sound system kecil untuk berkaraoke ria dengan kelompoknya.


Disini kami memesan rujak india, isinya banyak berbagai makanan sejenis gorengan gitu sih dikasih saus khasnya yang ga ngerti itu bahannya apa. Trus juga ada sate lembu dan sate ayam yang disampingkan dengan ketupat. Dan minuman yang bernama air mata kucing, yaitu air rebusan dari buah kelengkeng dan juga ada buah kelengkengnya didalam gelasnya, manis dan segar sekali rasanya ditengah teriknya siang Singapore.


Kenyang perut karena telah terisi sampai kami berempat tindak sanggup untuk menghabiskan itu semua. Menuju ke apartemen di area Sengkang yang kurang lebih berjarak 10 km, dengan belasan dollar untuk taxi online.


 Beristirahat sejenak dan memejamkan mata karena hampir semua tujuan list kami sudah berhasil dikunjungi. Keberangkatan bus kami menuju Malacca jam 11 PM, kami menggunakan bus Starmart Express yang poolnya berada di Golden Mile Tower, Beach Rd, dekat dengan Nicoll Highway MRT Station.


Diseberang Golden Mile Tower terdapat sebuah food court yang menjual makanan khas yang jarang bahkan mungkin tidak pernah ditemui di Indonesia, yaitu Sup Tulang Merah yang bahan dasarnya dari tulang sapi yang dibumbu dengan warna yang merah pekat sekali, dimakan dengan roti.


 Dan juga Mutton Chop yaitu daging domba didampingi kentang, kacang polong, dan juga telur.



Setelah itu kami mengunjungi counter tiket agen bus yang telah kami pesan melalui easybook.com untuk menukarkan e-ticket kami, setelah tiket didapatkan kami menunggu kedatangan bus yang akan mengantarkan kami ke Malacca. 


Busnya bagus sekali, kursinya lebar dengan formasi kursi 2-2, acnya cukup dingin dan kondisi dalam busnya cukup wangi. Saat menaruh tas kedalam bagasi bus, gue mencari jaket putih yang seinget gue masih gue pake ketika hari pertama gue sampai di Singapore, sampe seluruh isi tas ransel gue keluar semua, gue tidak menemukan jaket gue. Padahal itu jaket putih kesayangan gue yang jarang gue pake karena takut kotor dan masih bagus. Setelah lama memikirkan dimana terakhir naruhnya, teringat bahwa jaket ditaruh di hostel dan karena bed covernya serba putih juga sepertinya tertutup dengan selimut amburadul yang belum sempat dibereskan. Dan akhirnya waktunya untuk mengikhaskan karena juga tidak mungkin untuk mengambilnya kembali ke hostel yang jaraknya cukup jauh dari lokasi saat itu.

Cerita berikutnya dapat kalian klik disini.


follow instagram @khafid_nrd untuk bertanya apapun mengenai perjalanan ini..

6 HARI TRAVELING MALAYSIA DAN SINGAPORE - PART 3/6



Mengunjungi Wisata Gratis Singapore



Untuk cerita sebelumnya bisa klik disini.


DAY THREE – 6 JULI 2019



            Kami sampai di bandara dan melakukan antrian bagian imigrasi pada tanggal 5 Juli, tetapi setelah melakukan proses dan antrian yang cukup panjang (tetapi tidak sepanjang waktu di imigrasi Malaysia) yang membutuhkan waktu sekitar 45 menit.



Disebelah tempat antrian terdapat sebuah etalase berisi beberapa jenis guide book keluaran terbaru dari Singapore yang bisa kita ambil untuk panduan yang biasanya berisi list wisata yang bisa kita kunjungi selama di Singapore dan juga peta maupun rute transportasi umum yang tentunya akan sangat bermanfaat bagi visitors seperti kami yang baru pertama kalinya memasuki Singapore. Akhirnya kami keluar dari bagian imigrasi sudah memasuki tanggal 6 Juli.


            Dikarenakan kami tidak melakukan pemesanan hostel pada malam ini, dan juga karena menghemat pengeluaran. Kami memutuskan untuk beristirahat di arrival hall, disini terdapat banyak sofa yang nyaman untuk digunakan beristirahat dan juga memiliki koneksi wifi yang cukup bagus. Mungkin karena sudah lewat tengah malam, jadi suasana tidak terlalu ramai, tetapi ada beberapa orang juga yang beristirahat di sofa layaknya kami.
            Karena tidaktahuan atau kurang mengerti, kami tidak menemukan restoran sepanjang mata memandang. Karena makan terakhir sudah lebih dari 6 jam yang lalu dan kebiasaan gue yang tidak bisa tidur ketika perut lapar sangat menyiksa pada malam itu.


            Matahari sudah terbangun dari tidurnya, saatnya kami beranjak dari sofa untuk melanjutkan perjalanan ini. Hal pertama yang kami cari adalah café atau restoran, tak selang lama setelah keluar dari arrival hall terdapat gerai McD favourite gue. Setelah 12 jam tidak memakan apapun karena kami dari KL juga tidak membawa bekal, hal yang sangat diinginkan adalah nasi, yap karakteristik orang Indonesia banget. Ternyata setelah memasuki gerai, dan melihat menu yang terdapat di screen, hanya terdapat berbagai burger dan fries dan beberapa makanan ringan lainnya. Tidak terdapat nasi sama sekali, harapan gue untuk mengenyangkan perut dengan segara sudah pupus. Akhirnya dengan berat hati kami menunda jam sarapan kami agar nanti lebih bisa menikmati makan dengan porsi jumbo.


            Sementara itu kami memilih untuk menuju salah satu tempat gratis yang dapat dikunjungi ketika di Changi Airport, yaitu Rain Vortex yang berada di Jewel Changi. Sebuah air terjun dalan ruangan yang tertinggi di dunia, dengan ketinggian 40 m. Area Jewel Changi ini dikelilingi 280 toko dan juga restoran, ada juga hutan dan bukit buatan seluas empat lantai dengan dua jalur setapak, tetapi hutan buatannya tetap menggunakan tumbuhan dan pohon asli. Untuk mencapai Jewel Changi dapat menggunakan kereta bandara dan menuju ke Terminal 1, saat berada pada kereta bandara menuju terminal 1 sudah terlihat dome yang sangat besar berdiameter sekitar 200 m. Kami datang terlalu pagi sehingga belum banyak gerai yang buka pada sekitar pukul 7 pagi. Dan saat kami berada pada area hutan buatan dan berada pada lantai yang paling atas dari Jewel Changi, Rain Vortex pun bahkan belum mengeluarkan airnya. Tepat pukul 8 Rain Vortex mengguyurkan airnya ke kolam yang berada dibawahnya, begitu indahnya. Sayangnya ketika siang lampu-lampu sorot yang mempercantiknya belum menyala, tetapi tidak mengurangi keindahannya.


            Puas berada disana, kami mengunjungi Universal Studio Singapore (USS) yang berlokasi di Sentosa Island, sebuah pulau kecil di selatan Singapore. Untuk dapat sampai disana sangat mudah dicapai dengan moda transportasi MRT dengan tujuan stasiun HarbourFront, stasiun ini berada tepat di Vivo City Mall. 


Nah, karena pagi tadi kami belum sempat untuk sarapan jadi kami menyempatkan untuk pergi ke food court yang berada di Vivo City. Selain makanan Chinese dan makanan khas daerah melayu, juga terdapat makanan Indonesia seperti nasi padang, tetapi dengan harga yang tidak murah juga diatas SGD 5, waktu itu kurs 1 SGD setara dengan 10.500. 


Mata gue tertuju pada bebek yang digantung berjajar disebuah kedai makanan chinese, akhirnya gue memensan Braised Duck Rice seharga SGD 5, dengan harga itu sangat worth untuk dibeli karena bebeknya sangat lembut dan bumbu pada nasinya yang sangat terasa gurih, juga disajikan semangkuk kecil soup.


            Perut sudah terisi saatnya untuk mencari transportasi menuju Sentosa Island, yaitu dengan menggunakan Monorail Sentosa Express, dengan biaya SGD 4. Dengan harga segitu kami cukup terkejut sih padahal jaraknya sebenarnya tidak terlalu jauh dari Mall, karena jika kami naik MRT biasa harga yang dipatok hanya sekitar SGD 1 sampai dengan SGD 2. Kemudian nanti turun di World Resort Station, dan jalan keluar dari stasiun sejauh 100 m sudah terlihat icon bola dunia USS. 


Kami tidak membeli tiket masuk USS dikarenakan harga yang tidak murah, setahu kami sekitar 750.000 rupiah, dan juga karena alasan waktu kami di Singapore yang tidak begitu lama, jadi setelah mendapatkan foto-foto yang bagus sebagai penanda kami telah mengunjungi Universal Studio, kami melanjutkan ke tujuan lain yang sudah masuk ke dalam list kami.
           


            Saat kami mencari list tempat hunting foto di Singapore, muncul lah nama Clarke Quay. Sebenarnya kami juga belum terbayang seperti apa tempatnya, tapi apa salahnya kita mencoba. Menggunakan jalur North East Line berwarna ungu, kami turun di Clarke Quay Station. Dengan berjalan kaki sekitar 300 meter, terlihatlah bangunan-bangunan unik Clarke Quay dan Riverside. Tatanan rumah-rumah unik dan juga banyak kedai café maupun live music tersedia disana, namun saat kami kesana keseluruhan aktivitas dari Clarke Quay belum dimulai, karena semuanya dimulai pada malam hari. 


Karena sedikit kecewa karena tak banyak hal yang kami temui disana, kami memutuskan untuk menyusuri sungai. Didekat jembatan terdapat penjual ice cream sandwich Singapore, dijual dengan harga sekitar SGD1.5 sangat mengobati rasa haus kami ketika menghadapi panasnya Singapore.


            Tetap menggunakan jalur MRT yang sama dengan pemberhentian Little India Station. Suasana berbeda dari kemewahan dan kemodernan Singapore terdapat disini, kawasan dengan budaya India yang masih sangat kental. Banyak penjual makanan vegetarian, penjual rangkaian bunga khas India, dan juga barang-barang lain khas India tersedia banyak disini. Dan hal yang kami sukai disini adalah arsitektur rumah-rumah di area ini yang unik, penuh warna warni. 


Salah satu yang terkenal adalah Tan Teng Niah Residence yang berada di Kerbau Road. Menyuguhkan warna-warni yang mencolok mula dari pintu, jendela, hingga dindingnya. Bangunan berwarna ini adalah hasil pekerjaan restorasi Cina terakhir yang masih bertahan di lokasi ini. Hanya butuh satu menit dari MRT Little India untuk mencapai lokasi ini. Coretan mural keren banyak ditemukan di Little India yang sangat instagrammable.


            Jika kalian ingin berbelanja, pusat perbelanjaan 24 jam Mustafa Center Singapore menawarkan segalanya dari elektronik sampai bahan makanan. Berkunjunglah selama Deepavali biasanya dibulan Oktober dan November dan Pongal pada pertengahan Januari, perayaan penuh kegembiraan yang sangat sayang untuk dilewatkan.


            Saran dari kami kalau berkunjung ke daerah ini jangan tepat pada siang hari karena ketika musim kemarau akan terasa sangat panas sekali dikarenakan area ini tidak terlalu banyak pohon-pohon untuk berteduh juga. Bisa juga menggunakan body lotion atau sun cream.


            Check in hostel kami sudah dapat dilakukan, karena waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 14:30. Kami menuju tempat hostel kami di kawasan Kampong Glam dengan menaiki MRT dengan tujuan Bugis station. Hostel kami jaraknya sekitar 500 meter dari MRT Bugis Station, area disekitar hostel kami ini cukup menarik, terdapat banyak café-café keren yang dihiasi berbagai lampu-lampu dan lukisan mural yang derdapat diberbagai sisi tembok bangunan.


Hostel kami ini berada di lantai 2 disebuah ruko, dengan ranjang tingkat berbalut sprei dan selimut putih, disetiap ranjangnya terdapat korden yang menutupi ketika tidur atau sedang berganti baju, terdapat 2 AC untuk sekitar 8 ranjang yang berada pada 1 ruangan yang cukup besar itu. Kondisi ruangannya cukup baik dan tidak terlalu pengap seperti hostel kami di Kuala Lumpur waktu itu. Walaupun menggunakan kamar mandi umum yang berada diluar kamar juga kebersihannya tetap dijaga. Setiap penghuni kamar diberikan kunci berupa kartu, jadi yang tidak memiliki kartu tersebut tidak bisa memasuki ruangan kamar secara sembarangan. Dibawah ranjang terdapat loker untuk menaruh tas atau barang berharga ketika ingin ditinggalkan di kamar ketika ingin bepergian.



Setelah semalam tidur di sofa, paginya langsung jalan-jalan ke berbagai tempat dengan membawa tas besar berisi pakaian dan lain-lain kepanasan di little India, terkuraslah tenaga kami hari itu. Menyempatkan waktu sekitar 1 jam untuk tidur terlebih dahulu sebelum melanjutkan explore kami pada sore hari. Selain itu juga kami perlu melakukan charge kamera, handphone maupun power bank. Untuk colokan listrik, kalian harus menyiapkan jenis colokan lain yaitu type G atau colokan 3 pin yang digunakan di Malaysia dan Singapore, berbeda dengan type C dan type F yang memiliki 2 pin. Dan jangan lupa untuk membawa kabel rol jika kalian membawa barang elektronik lain selain handphone, seperti kamera dan power bank agar semakin mempermudah kalian untuk mengakses listrik.


Energi telah terisi kembali setelah tidur sesaat, saatnya kembali lagi mengeksplore Singapore di sore dan malam hari. Tujuan utama kami yaitu Merlion Park, kami berusaha untuk sampai disana pada saat matahari masih bersinar tetapi tidak terik, agar bisa mendapatkan foto ketika terang dan gelap di malam hari. Kembali menggunakan MRT dari Bugis Station menuju Raffles Place Station kemudian berjalan kaki sekitar 400 meter baru sampailah dikawasan Merlion Park, yang didepannya terlihat Marina Bay Sands, Esplanade dan juga Helix Bridge. 


Karena saat itu bertepatan dengan hari Sabtu, jadi sangat ramai sekali, bahkan kami mengantri untuk mendapatkan spot foto terbaik didepan patung Merlion. Kami tidak begitu mengerti karena akan ada acara apa disana tetapi sore itu terdapat beberapa kapal di teluk depan Merlion yang menembakkan meriam berkali-kali dan juga ada rombongan helicopter yang membawa bendera Singapore yang sangat besar terbang diatas kawasan itu yang mana menjadi pusat perhatian para pengunjung.


Karena sudah cukup mendapatkan foto di Merlion Park saat sore hari, dan kebetulan juga kami belum makan jadi kami memutuskan untuk membeli makan dahulu sambil menunggu waktu petang. 


Banyak sekali café di riverside dekat Merlion, tetapi kami melihatnya sepertinya harganya tidak terjangkau dengan kantong kami, jadi kami terus menyusuri jalan sambil melihat-lihat jikalau ada café yang harganya sedikit miring. Akhirnya kami menemukan café yang menjual sejenis rice bowl di Circular Rd.




Saat kami jalan dalam perjalanan kembali ke area Merlion, kami melihat fireworks yang begitu besar dan banyak kami mengira awalnya hanya pengunjung yang sedang ingin menyalakan kembang api, ternyata setelah beberapa saat semakin meriah, akhirnya kami pun langsung berlari kembali menuju kawasan Merlion untuk melihatnya, ternyata memang ada sejenis fireworks show di area tersebut, dan dimulai pukul 8 PM. Sangat indah dengan background Marina Bay Sands dan teluk yang memancarkan bayangan cahaya-cahaya disekelilingnya.



Tujuan kami selanjutnya adalah Garden by the Bay. Dengan menyusuri pinggir teluk itu dan berjalan santai menikmati indahnya cahaya-cahaya gedung pencakar langit Singapore, Merlion Park dan Marina Bay Sands. Lokasi Garden by the Bay berada dibelakang Marina Bay Sands.


 Teryata begitu jauh sekali jaraknya walau terlihat begitu dekat ketika berada di area Merlion tadi, jaraknya hampir 2 km jika dilihat di Maps, begitu melelahkan bagi kami di malam itu. Sialnya adalah ketika sudah sampai di area Giant Trees lampu yang menyala tidak semeriah yang biasanya kami lihat di instagram maupun social media lainnya, dikarenakan waktu sudah menunjukkan pukul 11 dan sudah close. Padahal biasanya ada pertunjukan permainan cahaya lampu yang terdapat di Giant Treesnya dengan iringan musik-musik indah. Setelah cukup beristirahat disana kami kembali ke penginapan dengan menggunakan MRT BayFront yang berada disebelah Garden by the Bay tepat.


Cerita berikutnya dapat kalian klik disini.

follow instagram @khafid_nrd untuk bertanya apapun mengenai perjalanan ini..

6 HARI TRAVELING MALAYSIA DAN SINGAPORE - PART 2/6



Naik Scoot Seharga Tiket Bus



Untuk cerita sebelumnya bisa klik disini.

DAY TWO – 5 JULI 2019

            Dikarenakan terlalu lelah di hari pertama kedatangan kami di kota ini, sehingga hari ini kami tidak bisa memulai aktivitas pada awal hari. Sekitar pukul 8 kami baru bangun, mungkin juga dikarenakan tidak adanya cahaya yang masuk ke dalam kamar, jadi terasa seperti malam terus. Dan di kota ini matahari terbit juga tidak sepagi di Jakarta, sekitar pukul 7 matahari baru menampakkan sinarnya.


            Semangat kami hari ini membawa kami ke sebuah tempat dimana akan banyak tercium bau dupa. Salah satu Kuil Hindu yang paling terkenal di luar India, Batu Caves, Selangor. Tempat yang menjadi salah satu tujuan turis ini berlokasi tidak jauh dari pusat kota. Untuk mencapai Batu Caves ini, kalau posisi awal berada di Bukit Bintang, naik Monorail tujuan KL Sentral, berganti ke KTM Komuter dan mengambil platform 3 dengan biaya tiket sebesar RM2.6. Demi mencapai Stesen Batu Caves (dalam bahasa Melayu, Stasiun = Stesen) melewati 7 titik pemberhentian dan memakan waktu 30 menit.




            Setibanya di stasiun tujuan, pintu terbuka dan bau dupa sudah tercium menyengat di hidung. Sepanjang mata memandang, banyak etnis asli India yang mengenakan pakaian khas orang India, dan juga banyak yang tidak mengenakan alas kaki, mungkin akan melakukan ibadah atau semacamnya. Saat sudah memasuki kawasan kuil, sudah disambut dengan Patung Murugan yang menjulang tinggi berwarna emas. Didepannya banyak sekali burung merpati dibagian halaman depan, dan juga monyet-monyet yang bermain diatas kuil maupun di pepohonan sepanjang 272 anak tangga yang berwarna-warni, yang menjadikan Batu Caves memiliki ketertarikan sendiri.




            Di kawasan Batu Caves ini juga terdapat sebuah tempat bernama Dark Caves, di tempat ini kalian dapat mengeksplorasi gua yang di dalamnya memang terdapat flora dan fauna yang dilindungi. Untuk memasuki area ini dikenakan biaya masuk sebesar RM35 untuk dewasa, sedangkan anak anak RM15. Durasi eksplorasi dalam tur tersebut sekitar 45 menit dengan panjang gua yang dilalui sekitar 850 meter dengan minimal peserta berjumlah 15 orang.


            Banyak stalagmit dan stalagtit didalam gua kapur ini yang memukau, apalagi ketika sudah memasuki muka gua terdapat patung kecil yang menyambut kami, dan disisi sebelah kanan terdapat kuil kecil dan juga penjual souvenirs. Semakin ke dalam, terdapat bangunan kuil yang penuh dengan warna dan patung-patung yang indah, yang tentunya banyak orang yang sedang beribadah didalamnya. Perjalanan berlanjut menuju ujung gua, harus menapaki anak tangga lagi, dan disitu terdapat lubang yang membuat cahaya matahari masuk ke dalam gua, dimana hal itu menambah eksotisme dari Batu Caves ini.



            Setelah puas menikmati sekeliling gua, dan juga mendapatkan foto-foto yang diinginkan. Sekitar pukul 11 kami segera kembali ke KL Sentral dikarenakan itu hari jumat jadi juga mempersiapkan untuk sholat jumat. Karena waktu sholat jumat masih agak lama, kami memutuskan untuk mencari makan diluar area KL Sentral, karena sedari kami berangkat belum sempat terisi makanan sama sekali. Kami mencari makanan agak sedikit kesulitan karena bingung dengan menu makanan khas India yang banyak tersedia disana, dikarenakan disitu memang kawasan etnis asli India berkumpul jadi tidak heram. Disebuah gang menemukan sebuah tepat makan yang terdapat papan menunya yang bisa kita lihat, disitu menjual sejenis ayam, bernama Ayam Peratal. Ternyata berisi nasi dan ayam yang bentuk ayamnya terpotong kecil-kecil dengan bumbu dan rempah-rempah khas India yang sangat kuat, ditemani dengan sebuah soup bening yang tidak terlalu banyak isinya



            Setelah selesai makan, kami beranjak untuk menunaikan ibadah sholat jumat. Pada awalnya bingung untuk mencari masjid terdekat, tetapi kemudian kami mengikuti orang-orang yang berpakaian rapi bak pegawai tetapi menggunakan sendal dan juga orang yang menggunakan peci, pasti tujuannya tak lain dan tak bukan adalah masjid. Tak lama setelah jalan kami menemukan masjidnya, tak begitu besar tapi cukup ramai dengan jamaah. Air wudhu pun telah diambil dan duduk untuk mendengarkan kutbah. Setelah kami dengarkan dengan seksama orang yang kami anggap khatib itu menyampaikan pesannya lewat bahasa yang tidak kami mengerti. Yaitu dalam bahasa Tamil atau bahasa India, yang membuat kami bingung adalah, apakah semua orang disini mengerti bahasa itu? Karena tidak semua yang menjadi jamaah adalah orang asli keturunan India walaupun memang masjidnya terletak dikawasan etnis India. Cukup lama sekitar 30 menit layaknya khutbah seperti biasanya, namun setelah itu berganti orang, dan orangnya ini adalah keturunan melayu yang memulai untuk membuka kutbah dengan bacaan-bacaan doa yang biasa kami dengar di masjid Indonesia pada umumnya. Dan ternyata barulah kutbahnya dimulai, dalam benak bertanya, selama itu tadi dia siapa dan apa yang dia sampaikan? Belum terjawab sampai sekarang.


            Kemudian dilanjutkan dengan mencari tiket bus untuk mengantarkan kami ke KLIA2 dibagian kalau tidak salah lower ground dari KL Sentral, karena malam harinya kami akan terbang ke Singapore pukul 22:30, jadi kami memesan bus keberangkatan sore agar tidak terlalu terburu-buru berangkatnya karena membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Terkejutnya kami bahwa harga bus untuk ke KLIA2 dari KL Sentral hanya RM12, lebih murah 4 kali lipat dibanding dengan naik KLIA Express. Then, kami pulang kembali ke penginapan untuk bersih diri dan juga mempersiapkan pakaian yang perlu dibawa.


            Selama kami di Malaysia, kami selalu melakukan penarikan langsung dari ATM yang tersedia dan terkoneksi dengan Mastercard atau Visa, bisa DBS atau UOB. Tetapi tipsnya adalah jangan melakukan pengambilan uang dengan nominal yang sedikit, atau kalian akan merugi karena setiap pengambilan tunai dikenai charge sekitar Rp 50.000.

Sesampainya kembali kami di KL Sentral , seperti yang sudah kami jelaskan diawal, KL Sentral juga terintegrasi dengan mall, sembari menunggu jam kedatangan bus memutari mall adalah hal yang menarik untuk dilakukan, dan ujung-ujungnya gue tertarik untuk membeli hal yang sudah sangat lazim gue minum di Jakarta, Chatime. Dengan penampilan yang sama dan rasa yang tidak berbeda bahkan harga yang tidak jauh berbeda.


Kemudian kami menuju kounter bus dimana tempat kami memesan tiket bus tadi, disitu juga ada counter bus lainnya, tidak hanya satu. Setelah busnya sampai dan kami dipersilakan masuk, ternyata fasilitas busnya bagus dan sangat nyaman untuk tidur disepanjang perjalanan yang lebih dari 1.5 jam itu. Saat kami melakukan perjalanan menuju airport, hujan turun mengguyur panasnya Kuala Lumpur pada hari itu. Membawa kami ke dunia bawah alam sadar karena energi sudah terkuras banyak sejak pagi hari.


Sesampainya di airport kami berkeliling dulu karena boarding time kami juga masih bebarapa jam lagi. Terlihatlah sebuah food court, suara perut sudah tidak bisa tertahankan. Lagi-lagi terlihat berbagai makanan dengan aroma khas rempah-rempah yang sangat kuat, NZ Curry House, kedai makanan yang kami pilih. Nasi briyani ditambah daging sangatlah menggoda, bentuk nasinya yang besar dan lebih panjang daripada nasi yang biasa kami makan di Indonesia, banyak tabahan kayu manis dan cengkeh saat pengolahannya, daging kambing yang begitu empuk memudahkannya untuk melewati mulut. Seharga RM12.7 untuk satu porsi tidaklah begitu untuk makanan sekelas ini, kurs Rp 3.400 pada waktu itu setara dengan Rp 43.000.

Perut sudah terisi, sudah siap untuk melakukan check in, counter check in di KLIA2 sangatlah banyak karena memang terminal ini sangat lah besar sehingga untuk mencapai gate tertentu bisa mencapai ratusan meter dari area utama check in (kejadian menarik di flight kami menuju Jakarta, akan diceritakan di hari terakhir). Tidak butuh lama karena juga tidak terlalu banyak orang yang mengantri pada waktu itu. Pengecekan bagasi selalu dilakukan sebelum keberangkatan, pada saat berangkat dari Jakarta semua bawaan kami aman tidak ada yang di sita hanya air minum yang perlu dibuang karena tumblrnya masih digunakan kembali. Saat keberangkatan dari KLIA2 menuju Singapore ini lebih ketat, saat pengecekan petugas imigrasi meminta untuk membukakan tas yang gue bawa, ternyata body lotion dan parfume yang gue bawa melebihi batas yang diperbolehkan, yaitu 100 ml. Jadi yang tersisa hanyalah face wash yang diperbolehkan dibawa, padahal itu parfume baru dibeli sebelum keberangkatan kami, untungnya harga parfumenya tidak terlalu mahal jadi tidak terlalu menyesal.

Ruang tunggu sebelum keberangkatan kami cukup terbilang bagus jika dibandingkan dengan ruang tunggu terminal 1 Soekarno-Hatta, entah kalau dengan terminal 3 ultimate Soekarno Hatta.

Perjalanan kami dimulai pukul 22:30 dan memerlukan durasi sekitar 1 jam 10 menit. Saat di dalam pesawat, para pramugari menawarkan form imigrasi untuk foreign tourist agar dapat diisi terlebih dahulu supaya proses di imigrasi lebih cepat.  Memasuki Singapore, malam hari begitu terang sekali, kota bermandikan cahaya lampu.


Cerita berikutnya dapat kalian klik disini.

follow instagram @khafid_nrd untuk bertanya apapun mengenai perjalanan ini..